Pamekasan | Madurakita.id – Berawal dari dunia pertanian, Mahfudh S.M. berhasil menorehkan berbagai prestasi hingga tingkat ASEAN. Pria berusia 30 tahun asal Desa Pesanggar, Pamekasan, itu kini mengemban amanah sebagai anggota DPRD Kabupaten Pamekasan periode 2024–2029.
Perjalanan Mahfudh menunjukkan bahwa sektor pertanian bukan sekadar pekerjaan tradisional. Dengan inovasi dan semangat kewirausahaan, pertanian dapat menjadi jalan untuk mengembangkan potensi diri sekaligus membuka peluang bagi masyarakat.
Prestasinya mulai dikenal pada 2020 ketika meraih penghargaan Petani Berprestasi Jawa Timur. Pada tahun yang sama, ia juga mengikuti program Pertukaran Pemuda ASEAN.
Pada 2021, Mahfudh meraih penghargaan Wirausaha Muda Berprestasi Jawa Timur dan East Java Tourism Award. Setahun kemudian, ia turut mencatatkan kiprah dalam pengembangan desa wisata melalui Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).
Prestasinya berlanjut pada 2023. Ia mengikuti ASEAN Award di Singapura dalam bidang “edutourism”, meraih Indonesia Award kategori pertanian modern paling inovatif, serta menyandang predikat Pemuda Pelopor Nasional bidang pangan.
“Pertanian membutuhkan generasi muda yang berani menghadirkan gagasan baru, memanfaatkan teknologi, membangun usaha, dan menciptakan nilai tambah bagi hasil pertanian,” tutur Mahfudh. Selasa (13/10/26).
Pada 2024, ia meraih Golden Award tingkat ASEAN sebagai anak muda paling inspiratif. Ia juga dipercaya menjadi Master Trainer Kepeloporan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI.
Tahun yang sama menjadi babak baru dalam perjalanan Mahfudh setelah terpilih sebagai anggota DPRD Pamekasan. Pengalaman di bidang pertanian, kewirausahaan, dan kepemudaan menjadi bekal untuk menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.
Pada 2025, ia kembali mengikuti kegiatan bertema Advancing Technology-Driven, Eco-Friendly Agriculture di Kuala Lumpur, Malaysia, yang membahas pengembangan pertanian berbasis teknologi dan ramah lingkungan.
Perjalanan Mahfudh bukan hanya tentang penghargaan, tetapi juga tentang keberanian mengembangkan potensi dari desa hingga menjangkau tingkat internasional.
“Saat ini tantangan berikutnya adalah menerjemahkan pengalaman dan prestasi tersebut menjadi kerja nyata yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya dalam pengembangan pertanian, ketahanan pangan, pemberdayaan pemuda, dan ekonomi lokal,” tutup Mahfud.






