Malang | Pamekasan – Perjuangan panjang seorang anak guru ngaji dari Kabupaten Pamekasan, Madura, berbuah manis. Ach. Fadhail Alfarisi berhasil meraih gelar Magister Hukum dengan predikat Cumlaude setelah menyelesaikan studi di salah satu perguruan tinggi Islam negeri di Kota Malang.
Di balik capaian akademik tersebut, tersimpan kisah penuh perjuangan. Fadhail tumbuh dalam keluarga sederhana dan harus kehilangan sosok ibu sejak usia dini. Namun, kondisi itu tidak mematahkan semangatnya untuk terus menuntut ilmu.
Putra seorang guru ngaji langgar di Pamekasan ini memperoleh pendidikan agama yang kuat sejak kecil. Didikan sang ayah tentang kesederhanaan, kerja keras, dan kecintaan terhadap ilmu menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya.
Latar belakang pesantren turut membentuk karakter Fadhail. Ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kebun Baru sebelum melanjutkan kuliah strata satu di Universitas Islam Negeri Madura. Di jenjang S1, ia juga berhasil lulus dengan predikat cumlaude.
Tekad untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat magister tidak mudah diwujudkan. Keterbatasan ekonomi menjadi tantangan yang harus dihadapi. Meski demikian, Fadhail memilih merantau ke Malang demi mengejar cita-citanya.
Selama menempuh studi S2, ia tidak hanya fokus pada perkuliahan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan, Fadhail mengajar Al-Qur’an di rumah-rumah warga, menjadi pengemudi layanan antar makanan, hingga merintis usaha minuman.
Baginya, bekerja sambil kuliah merupakan bagian dari ikhtiar dalam menuntut ilmu. Tidak ada pekerjaan yang dianggap rendah selama dilakukan dengan cara yang halal dan penuh tanggung jawab.
“Semua yang saya capai hari ini tidak lepas dari doa ayah, para guru, dan almarhumah ibu yang selalu saya kenang dalam setiap langkah,” ujarnya.
Usaha dan ketekunan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Fadhail berhasil menyelesaikan Program Magister Hukum dengan IPK 3,93 dan menyandang predikat Cumlaude.
Ia berharap kisah hidupnya dapat menjadi inspirasi bagi para santri, anak-anak desa, dan generasi muda yang tengah berjuang meraih pendidikan di tengah keterbatasan.
“Keadaan boleh sederhana, kehilangan boleh menjadi luka, tetapi mimpi tidak boleh berhenti. Saya percaya doa orang tua, keberkahan guru, dan kesungguhan dalam berusaha akan selalu menemukan jalannya,” tuturnya.
Kisah Ach. Fadhail Alfarisi menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi dan berbagai tantangan hidup bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Dari langgar sederhana di Madura hingga menyandang gelar Magister Hukum Cumlaude, perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa doa orang tua dan kerja keras mampu mengantarkan seseorang menuju kesuksesan.






